A. Pendahuluan
Al-Qur’an merupakan kitab suci yang banyak berisi kajian seputar
komunikasi, pemberi komunikasi, penerima informasi(pesan-pesan ilahiyah), serta
berbagai macam metode dan cara berkomunikasi.
Komunikasi
merupakan sebuah aktivitas dasar manusia untuk berinteraksi dengan lainnya.
Dengan berkomunikasi, manusia dapat saling berhubungan satu sama lainnya. Baik
dalam lingkungan keluarga, di tempat belajar, di pasar, dan lain sebagainya.
Tidak ada manusia yang tidak akan terlibat dalam komunikasi. Pentingnya
komunikasi bagi manusia tidak dapat dipungkiri. Dengan adanya kumonikasi yang
baik, aktivitas manusia dapat berjalan dengan lancar.(Rahman, 2007: 1)
Selain itu, komunikasi yang merupakan
aktivitas pasti menggunakan bahasa sebagai medianya. Sebagaimana al-Qur’an
telah mensyariatkan kepada manusia, bahwa munusia sejak awal penciptaannya
senantiasa menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi seperti yang diisyaratkan
oleh al-Qur’an Surat Ar-Rahman ayat 4 yaitu علمه البيان yang artinya Allah mengajarkan manusia pandai
berbicara. Kata ‘al-bayan dan al-qaul menurut Jalaluddin Rahmat (1994) adalah
merupakan dua kata kunci yang dipergunakan al-Qur’an untuk sarana
berkomunikasi.
Berkenaan
dengan aktivitas dakwah, adalah juga merupakan suatu kegiatan komunikasi.
Karena komuniskasi dari segi bahasa berasal dari kata "Communicare"
yang bermakna penyampaian atau pemberitahuan yang dilakukan baik secara
perorangan (individu) atau kelompok yang
ingin mempengaruhi orang lain. Dan
inilah inti dari tujuan dakwah sebenarya, yaitu berusaha mempengaruhi orang
lain ke arah yang baik
Setiap individu muslim dianggap komunikator agama
atau da'i (pendakwah) di mana diwajibkan menyampaikan ajaran Islam sesuai kadar
kemampuan masing-masing. Tanggungjawab ini menjadi suatu tugas yang penting,
sehingga Rasulallah s.a.w dalam salah satu haditsnya yang sangat populer yaitu,”
بلغوا
عني و لو أية “ menuntut setiap muslim menyampaikan sesuatu darinya walaupun
hanya "satu ayat" . Simbolik walau hanya satu ayat menunjukkan
pentingnya kebenaran ajaran agama disampaikan dengan baik berdasarkan
prinsip-prinsip komunikasi yang digariskan ole Al-Qur’an. Karena salah satu
faktor keberhasilan dakwah Rasulullah adalah ketepatan bahasa yang digunakan
dalam mengkomunikasikan ajaran yang dibawanya.
Dalam
hal penggunaan bahasa dalam berkomunikasi kaitannya dengan dakwah, kalau kita
telusuri ayat-ayat al-Qur’an yang berkenaan dengan hal itu, maka paling tidak
ada enam prinsip berkomunikasi yang seyogyanya menjadi pegangan bagi seorang
da’i dalam melaksanakan dakwahnya, antar lain: Pertama, قولا بليغا (QS.An-Nisa (4): 63),. Kedua, قولا شديدا
(QS.An-Nisa (4): 9),. Ketiga, قولا ميسورا (QS.
al-Isra’ (17): 28),. Keempat, قولا لينا (QS. Thahaa (20): 44),.
Kelima, قولا كريما (QS. al-Isra’ (17): 23 & 28),. Dan Keenam, قولا معروفا (QS. An-Nisa (4): 5 & 8 ).
Berdasarkan
latar belakang tersebut di atas makalah ini hanya akan menfokuskan pembahasan
pada salah satu dari enam perinsip tersebut di atas yaitu: قولا بليغا (QS.An-Nisa (4): 63). Dengan alasan, penulis menganggap adanya
kesesuain judul makalah ini dengan ayat tersebut yang terdapat kata بليغا yang menjadi kata kunci dalam pembahasan ini,
berkonatasi penyampaian dakwah sehingga seorang da’i yang melakukan dakwah
disebut juga Muballigh dari akar kata yang sama balagha “sampai” menjadi
ballagha “menyampaikan”. Orang yang menyampaikan dinamai Muballigh
untuk laki-laki, Muballighah menujukkan perempuan.
B. Kajian Bahasa Komunikasi Dakwah
dalam Al-Quran
أولئك الذين يعلم الله ما في قلوبهم فأعـرض عـنهم وعـظـهم وقـل لـهم في أنفسهم قولا بليغا (63)
Artinya:
Mereka itu adalah orang-orang yang Allah
mengetahui apa yang di dalam hati mereka. Karena itu berpalinglah kamu dari
mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan Katakanlah kepada mereka perkataan
yang berbekas pada jiwa mereka. 63
Arti Kosa Kata : بليغا
Kata ini terdiri dari dari tiga huruf
yang sebahagian berbentuk kata benda (isim) seperti البلوغ –
البليغ – التبليغ dan sebahagian
ada yang berbentuk kata kerja (fi’il) seperti: بلغ - يبلغ -
أبلغ . Semua bentuk kata jadian itu bermakna: sampainya sesuatu pada
sesuatu yang lain, baik tempat ataupun masa atau sesuatu yang sudah
diperkirakan. Kata ini juga berarti cukup karena kecukupan berarti sampainya
sesuatu kepada batas yang ditentukan. Baligh juga bermakna sampai, mengenai
sasaran atau mencapai tujuan. Bila dikaitkan dengan ucapan, baligh berarti
fasih, jelas maknanya, terang dan tepat dalam mengunkapkannya. Sehingga seorang
da’i juga disebut muballigh karena dia dituntut pandai menyampaikan pesan
dengan ungkapan yang jelas dan tepat sehigga sampai pada yang dikehendaki.
Seorang anak yang mencapai usia baligh berarti dia telah dianggap cukup bahkan
wajib baginya untuk melakukan perintah agama dan dikenai dosa bila
meniggalkannya.
Menurut
Al-Buruswi (1996 juz 5: 175) mengartikan qaulan balighan, dari segi cara
mengungkapkannya, yaitu perkataan yang menyentuh dan berpengaruh pada hati
sanubari orang yang diajak bicara. Menyentuh hati, artinya cara maupun isi ucapan
sampai dan terhayati oleh lawan bicara. Sedangkan berpengaruh kepada hati
artinya kata-kata itu menjadikan terpengaruh dan merobah prilakunya. Demikian
halnya yang dikatakan Sayyid Qutub dalam tafsirnya yang sangat populer Fi
Dzilal al-Qur’an dalam memahami unkapan tersebut yaitu: adalah merupakan
ungkapan yang menggambarkan seolah-olah perkataan tersebut langsung bersemayam
dalam jiwa dan menetap dalam hati.
Lebih
lanjut Al-Maraghi (1943: 129) mengaitkan qaulan balighan dengan arti tabligh
sebagai salah satu sifat Rasul, yaitu Nabi Muhammad diberi amanah atau tugas
untuk menyampaikan peringatan kepada umatnya dengan perkataan yang menyentuh
hati mereka. Senada dengan itu, Ibnu katsir (1410: 743) menjelaskan makna
kalimat ini yaitu menasehati dengan ungkapan yang menyentuh sehingga mereka
berhenti dari perbuatan salah yang sebelumnya mereka lakukan.
Bagi
Ash-Shiddiqi (1979: 358) memaknai qaulan balighan dari segi gaya pengungkapan, yaitu
perkataan yang membuat orang lain terkesan. Sedangkan Rahmat (1994: 81)
memandang dari sudut komunikasi, yakni ucapan yang fasih, jelas maknanya,
tenang, tepat mengungkapkan apa yang dikehendaki, olehnya itu kalimat tersebut
diartikan atau diterjemahkannya sebagai komunikasi yang efektif.
Menurut
Al-Ashfahani perkataan baligh memiliki dua arti, pertama; apabila memenuhi tiga
unsur yaitu:
1) Memiliki
kebenaran dari sudut bahasa, صوابا في موضوع لغته ,
2) Mempunyai
kesesuain dengan apa yang dimaksud, طبقا لمعنى المقصود به ,
3) Mengandung
kebenaran secara substansial, صدقا في نفسه .
Kedua,
ketika perkataan itu dipersepsikan atau dipahami oleh yang mendengar seperti
yang dimaksud oleh yang berkata atau yang mengatakannya.(Ghafur, 2005: 141).
Munasabah Ayat
Ayat di atas berkenaan dengan orang munafik yang
di hadapan Nabi berpura-pura baik. Orang munafik tersebut – seperti yang
dijelaskan dalam hadits Beliau- memiliki tiga ciri yaitu, a) kalau berbicara
dia bohong, b) kalau berjanji dia dusta atau ingkar, c) kalau diberi amanah dia
berkhianat. Karena itu untuk menghadapi tipologi orang seperti itu diperlukan
bahasa komunikasi yang tepat, yang bukan hanya menyentuh aspek emosi, tapi juga
aspek kognitif.
Dalam
ayat sebelumnya, Allah menjelaskan beberapa ciri dari orang munafik, 1) tidak
beriman terhadap kitab Allah, baik yang diturunkan kepada Muhammad Saw. atau
kitab Allah sebelumnya. Salah satu bentuk ketidak berimanannya adalah tidak mau
memutuskan hukum yang berdasar padanya dan, 2) tidak mau diajak pada jalan yang
benar yang diridhoi oleh Allah Swt. Malah berusaha menghalangi orang lain pada
jalan tersebut. Dari beberapa ciri di atas adalah merupakan gambaran ketidak
taatan orang munafik kepada Rasul.
Dalam
sabab nuzulnya dijelaskan bahwa, ayat ini berkenaan dengan peristiwa
perselisihan antara orang Muslim Ansar dengan orang Yahudi. Dalam perselisihan
tersebut, keduanya sepakat membawa persoalan mereka berdua ke hadapan
Rasulullah untuk di carikan solusinya. Namun ketika akan dilakukan hal tersebut
datanglah orang munafik yang mengusulkan agar tidak diselesaikan dengan Nabi,
sebab diantara mereka ada seorang ‘alim Yahudi namanya Ka’ab bin al-Asyraf.
Jelas bahwa usulan tersebut sebagai bentuk pengingkaran orang munafik terhadapa
Muhammad sebagai Rasul.
Sehingga
pada ayat sesudahnya menjelaskan bahwa tujuan diutusnya seorang rasul, termasuk
Muhammad atas izin Allah adalah hanya untuk ditaati. Namun demikian, bukan
berarti kalau seseorang yang semula lupa dan menganiaya diri dengan jalan
mengikuti thagut, yaitu segala macam kebatilan baik dalam bentuk berhala,
ide-ide sesat, manusia durhaka dan lain-lain, perlu diajak kembali- diantaranya
dengan qaulan balighan- kepada jalan yang benar dengan cara bertaubat kepada
Allah, maka jangan menutup kemungkinan tersebut. Bahkan seperti yang dilakukan para
rasul adalah mendoakan mereka, serta memohonkan ampunan dari Allah untuknya.
Kandungan Ayat
Dalam berkomunikasi, Islam sangat menganjurkan
agar berbicara secara efektif, efisien, dan tepat sasaran. Seperti yang
dikemukakkan sebelumnya bahwa salah satu faktor keberhasilan dakwa Rasulullah dalam
memperjuangkan Islam adalah karena penggunaan bahasanya yang singkat, padat,
jelas serta mengena dalam lubuk hati dan pikiran sekaligus. Bahkan, Rasulullah
merupakan Rasul yang sangat pandai dalam merangkai kata yang akan disampaikan,
baik dalam bentuk khutbah, ataupun dalam berkomunikasi keseharian. Perkataan
tersebut dikenal dengan istilah “ jawami’ al-kalam.”
Dalam
kasus ayat ini menurut Al-Maraghi di
dalam tafsirnya beliau menguraikan maksud ayat tersebut, bahwa Allah meminta
agar mereka yakni orang manafik diperlakukan dengan tiga perkara yaitu:
Pertama;
berpaling dari mereka dan tidak menyambutnya dengan muka yang berseri dan
penghormatan. Hal ini akan menimbulkan berbagai kecemasan dan ketakutan akibat keburukan
yang ada di dalam hati mereka,
Kedua;
memberikan nasehat dan peringatan akan kebaikan dengan cara yang dapat
menyentuh hati mereka dan mendorong mereka merenungkan berbagai pelajaran dan
teguran yang disampaikan kepadanya,
Ketiga;
menyampaikan kata-kata yang membekas di dalam hati, sehingga merasa gelisah dan
takut karenanya, dan memberitahukan kepada mereka bahwa keburukan dan
kemunafikan yang disimpan di dalam hati mereka tidak tersembunyi bagi Allah
Yang Maha Mengetahui tentang segala rahasia dan bisikan.
Ayat
ini membuktikan bahwa Nabi saw. mempunyai kemampuan untuk menyampaikan
pembicaraan yang meyentuh hati, dan bahwa beliau diserahi tugas untuk
menyampaikan peringatan dan perkataan yang menyentuh hati, karena setiap tempat
mempunyai tata cara pempicaraan tersendiri. Pengaruh pembincaraan berbeda-beda
sesuai dengan perbedaan pemahaman orang-orang yang diajak berbicara. Ayat ini
juga membuktikan, bahwa beliau mempunyai hikmah dan dapat meletakkan
pembicaraan pada tempatnya.
Di dalam bukanya, Asy-Syifah’, ketika
menerangkan balagha sabda Rasulullah saw., Al-Qadi’yat mengatakan, kefasihan
bahasa dan sabda Rasulullah saw. sangat tinggi, dan itu sudah dikenal oleh orang
banyak. Beliau telah diberi kemampuan untuk menyampaikan pembicaraan yang
menyentuh hati dan hikmah-hikmah yang indah. Beliau banyak mengetahui
dialek-dialek Arab, berbicara kepada setiap umat dengan menggunakan gaya dan bahasanya
masing-masing. Sehingga banyak dari para sahabatnya yang bertanya tentang
keterangan dan tafsiran pembicaraan. Pembicaraannya kepada kaum Quraisy,
Anshar, penduduk Hijaz dan Najed tidak sama dengan pembicaraannya kepada Zul
Ma’syar Al-Hamdani, Tahfah An-Nahdi Asy-‘as bin Qais, Wail bin Hajar Al-Kindi
dan selain mereka, juga dari para pemimpin orang-orang Hadramaut dan raja-raja
Yaman.
Penggunaan bahasa yang jelas dengan kepasihan
dalam berkata-kata sangat penting dalam komunikasi yang berkesan. Ini merupakan
salah satu daripada kaedah komunikasi yang ditunjukkan oleh al-Quran dan Sunnah.
Dalam kisah dakwah Nabi Musa yang dijelaskan oleh al-Quran, Nabi Musa pernah
meminta kepada Allah, “ Dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka
faham perkataanku; dan jadikanlah bagiku, seorang pembantu dari keluargaku. yaitu
Harun saudaraku” (QS. Surat Ta Ha (20): 27-30). Dari kisah ini, menurut Dr
Iqbal Yunus, dapatlah difahami bahawa komunikasi efektif memerlukan kepada
kemahiran berkata-kata untuk menyampaikan pesan dengan jelas kepada penerima.
Makna
dasar dari ungkapan perkataan yang efektif
dapat terpenuhi apabila terjadi dua hal yaitu:
Pertama,
apabila komunikator menyesuaikan pembicaraannya dengan sifat-sifat khalayak
yang dihadapinya. Karena itu Allah mengutus Rasul-Nya sesuai dengan bahasa di
mana mereka diutus. Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam al-Qur’an surat
Ibrahim ayat 4 sebagai berikut:
!$tBur $uZù=yör& `ÏB @Aqß§ wÎ) Èb$|¡Î=Î/ ¾ÏmÏBöqs% úÎiüt7ãÏ9 öNçlm; ( @ÅÒãsù ª!$# `tB âä!$t±o Ïôgtur `tB âä!$t±o 4 uqèdur âÍyèø9$# ÞOÅ3ysø9$# ÇÍÈ
Artinya:
Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan
dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada
mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang dia kehendaki, dan memberi petunjuk
kepada siapa yang dia kehendaki. dan Dia-lah Tuhan yang Maha Kuasa lagi Maha
Bijaksana.(4).
Nabi
Muhammad menggunakan bahasa Arab, karena ia untuk pertama kalinya diutus di
tengah-tengah bangsa yang bahasanya bahasa Arab.
Kedua,
bila komunikator menyentuh khalayak pada hati dan pikirannya sekaligus. Sesuai
hasil penelitian, komunikasi menunjukkan bahwa ternyata setiap perubahan sikap
lebih cepat terjadi dengan adanya himbauan (appeals) emosional. Tapi dalam
jangka waktu yang lama, himbauan yang yang bersifat rasional memberikan pengaruh
yang lebih kuat dan stabil.
Perubahan
sikap, memang akan lebih cepat terjadi dengan cara menyentuh perasaan dan hati
seseorang, namun akan lebih baik lagi bila disertai dengan argumen rasional.
Karena itu keseimbangan antara keduanya adalah menjadi sangat penting dalam
melaksanakan dakwah, dan cara inilah yang diparaktekkan oleh para Rasul.
Salah
seorang pakar komunikasi bernama Dr. Ibrahim Elfiky mengatakan dalam salah satu
bukunya bahwa komunikasi yang efektif
akan terjadi apabila kita mampu menselaraskan gaya komunikasi kita
dengan gaya komunikasi orang lain.
Sebagai
tahapan awal, kita harus mengamati dan mengenal terlebih dahulu gaya bahasa,
pilihan kata dan gerak-gerik bahasa tubuh lawan bicara. Tahap berikutnya, saat
kita mampu melakukan itu, berawal dari keselarasan inilah akan muncul perasaan
nyaman dan cocok. Sehingga pada tahap selanjutnya adalah saatnya kita
mengenalkan ide-ide atau gagasan bahkan
kesempatan kita untuk mengajak, mendorong serta memberi pengaruh positif
kepada lawan bicara kita.(http://ksatriapembelajar.blogspot.com)
Para
ahli sastra menyatakan bahwa ada beberapa kriteria agar sebuah pesan termasuk
dalam kategori baligh antara lain:
1) Tertampungnya
seluruh pesan dalam kalimat yang disampaikan,
2) Kalimatnya tidak bertele-tele, tapi
juga tidak terlalu singkat. Tidak lebih, tidak juga kurang,
3) Kosa kata yang merangkai kalimat tidak
asing bagi pendengar dan pengetahuan lawan bicara, muda diucapkan serta tidak
berat terdengar,
4) Kesesuaian kandungan kalimat dan gaya
bahasa dengan lawan bicara yang sebelumnya menerima, menolak atau sudah
memiliki prinsip sendiri. Dengan kata lain tidak menganalisir materi yang
disampaikan,
5) Penggunaan bahasanya sesuai dengan
kaidah atau tata bahasa yang berlaku. (Ghafur, 2005: 141).
Karena
itu, baligh lebih tepat digunakan ketika berhadapan dengan mereka yang ada
sesuatu di dalam hati mereka atau dalam kasus ini adalah orang munafik. Dalam
menghadapi orang model demikian, suatu perkataan yang hendak disampaikan
seharusnya dapat meyakinkan dan argumentatif serta sesuai konteks ruang dan
waktunya. Ada yang disampaikan dihadapan umum, berdua atau bahkan secara
rahasia.
Dalam
kaitan ini, relevan kiranya kalau kita kutip pikiran Aristoteles yang menyebut
tiga cara dalam melakukan persuasi(mempengaruhi manusia) yang efektif, yaitu ethos,
logos dan pathos. Dengan Ethos sebenarnya kita merujuk
pada kualitas komunikator, dia seorang yang memiliki kejujuran, dapat dipercaya
punya pengetahuan, kemampuan yang tinggi dan berwibawa serta memiliki
kredibilitas. Logos dimaksudkan mengajak pihak lain untuk berpikir,
menggunakan akal sehat dan bersikap kritis, kita tunjukkan bahwa kita benar.
Sedangkan pathos adalah suatu bujukan kepada audiens untuk mengikuti
kita dengan cara menggetarkan emosinya, kita sentuh keinginan dan kerinduan
mereka, kita redakan kegelisan dan kecemasan mereka.(Gafhur, 2005: 146)
C. Analisis
Keberhasilan dakwah yang kita laksanakan tentu
sangat tergantung sejauh mana kemampuan kita mengkomunikasikan ajaran agama
yang kita yakini kebenarannya ditengah-tengah masyarakat dan zaman yang jauh
berbeda ketika pada awal munculnya Islam. Disinilah kita dituntut memahami
prinsip-prinsip komunikasi yang baik yang dapat mendukung tugas yang mulia
tersebut.
Sebagai sumber tertinggi kepada umat
Islam, al-Quran dan al-Sunnah, yang telah dicontohkan Rasulullah saw. dianggap
memuat prinsip dan kaedah komunikasi yang baik. Salah satu perinsip yang sangat
penting adalah penggunaan bahasa komunikasi yang efektif, tidak bertele-tele,
singkat –padat tapi mengena dalam lubuk hati dan pikiran sekaligus, dalam
al-Qur’an disebut qaulan balighan.
Sebaliknya banyak sekali ungkapan yang
secara kuantitatif banyak, tapi tidak bisa ditanggapi atau dipahami. Bahkan
kalau kita amati perkembangan model dakwah dan media akhir-akhir ini, tampak
bahwa yang ditampilkan adalah kuantitas materi bukan kualitasnya, sehingga yang
terjadi adalah berlomba-lomba memperbanyak segmen, tapi tidak kena sasaran.
Dan tak kalah pentingnya faktor
keberhasilan dakwah menurut Quraish Shihab dalam salah satu bukunya yaitu, “
Membumikan Al-Qur’an”, bahwa sekalipun dengan mengunakan kalimat-kalimat atau
ungkapan yang menyentuh hati untuh mengarahkan manusia kepada ide-ide yang
dikehendakinya, tanpa dibarengi dengan contoh teladan dari pemberi atau
penyampai nasehat, tidak akan banyak manfaatnya, dengan kata lain dakwah akan
mengalami kegagalan.
Dan bukankah Allah swt. juga sangat
murka terhadap orang yang tidak sejalan
kata dengan perbuatannya, sebagaimana firmannya dalam (QS. As-Shaf (61): 2-3):
$pkr'¯»t tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä zNÏ9 cqä9qà)s? $tB w tbqè=yèøÿs? ÇËÈ uã92 $ºFø)tB yYÏã «!$# br& (#qä9qà)s? $tB w cqè=yèøÿs? ÇÌÈ
“Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu
mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?(2)
Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu
mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.(3)”
D. Kesimpulan
Dari uraian dan analisis di atas kita dapat
menarik suatu kesimpulan, bahwa seorang da’i atau muballigh dalam melaksanakan
atau menyampaikan dakwanya harus mampu menggunakan mengkomunikasikan dengan
bahasa yang efektif, berkualitas dan mencapai sasaran serta mempunyai pengaruh
terhadap hati dan akal pikiran. Dan
sekalikus dibarengi dengan contoh dan teladan yang baik.
DAFTAR RUJUKAN
Al-Buruswi, Ismail. Terjemahan Tafsir Ruhul
Bayan Juz 5. Bandung: CV Dipenegoro.1996.
Al-Maraghi, Ahmad
Mustafa.. Tafsir Al-Maraghi. Baerut: Dar el Fikr,1943.
Ashiddiq, TM. Hasbi.Tafsir
al-Bayan. Bandung: Al-Ma’arif, 1977.
Departemen Agama. Al-Qur’an
dan Terjemannya. Semarang: Toha Putra,1989.
Ghafur, Waryono Abdul.Tafsir Sosial,
Mendialogkan Teks dengan Konteks. Yokyakarta: El-Saq Press, 2005.
http://ksatriapembelajar.blogspot.com/2006/11/komunikasi-ditulis-oleh-Satria-20-Nop.html
Katsir,Ibnu.Tafsir
Ibnu Katsir. Riyadh: Maktabah Ma’arif, 1410 H.
Qutb, Sayyid. Fi
Zhilal Al-Qur’an. Beirut: Ihya Al-Turats al-Arabi, 1967.
Rahmat, Jalaluddin. “Audienta” Prinsip-prinsip
Komunikasi Menurut Al-Qur’an. Jurnal Komunikasi.1994.
Rohman, Abd. Komunikasi Dalam Al-Qur’an (
Realisasi Ilahiyah dan Insaniah ). Malang: UIN- Malang Press, 2007.
Shihab, M. Quraisy. Membumikan Al-Qur’an.
Bandung: Mizan, 2007







0 komentar:
Posting Komentar